Jammin’ Chow: Ketika Dapur jadi Panggung Utama

Di Jammin’ Chow, kolaborasi bukan hanya sekedar narasi, melainkan napas yang mendorong kreativitas yang tak mengenal batas.

Dari kiri ke kanan: Vallian Gunawan, Austin Milana, Ryan Theja | Foto oleh Jammin’ Chow

Dari kiri ke kanan: Vallian Gunawan, Austin Milana, Ryan Theja | Foto oleh Jammin’ Chow

Jamming telah lumrah melekat kepada para musisi dari lintas grup, genre, atau generasi yang memainkan sebuah lagu bersama-sama. Seperti Phil Collins yang mengambil kendali posisi drum saat jamming bersama Eric Clapton pada lagu I Shot The Sherrif di Montreux Jazz Festival 1986 atau Barry Gibb dari Bee Gees, grup power pop di era 70-an jamming dengan Coldplay untuk sebuah lagu ajojing fenomenal, Stayin’ Alive, di Glastonbury 2016. Jika jamming tersebut bukan dimainkan di atas panggung dengan alunan instrumen alat musik melainkan di sebuah dapur dengan wajan, pisau, dan berbagai peralatan memasak lainnya, maka Jammin’ Chow adalah wujud nyata dari hal tersebut. Jammin’ Chow merupakan kolektif chef dari sebuah jamming yang dilakukan diranah kuliner. Trio chef dari Bali yang beranggotakan Ryan Theja, Austin Milana, dan Vallian Gunawan resmi membentuk Jammin’ Chow di Tahun 2021. Grup yang bermula dari keisengan saat meramu dinner event di café seorang kerabat di Bali ini ternyata tumbuh dan semakin meneguhkan diri sebagai kolektif chef yang kini dikenal masal. “Bermula dari iseng-iseng ingin bikin collective dinner di salah satu kafe kerabat kita di Bali, lalu secara tidak sengaja membuat saya berpikir, ‘Wah ini sepertinya asyik kalau kita bentuk sebuah band tapi dengan instrumen yang berbeda. Kalau band instrumennya alat musik, kita instrumennya alat masak.’” pungkas Austin.

Berawal dari sebuah keisengan tersebut, Jammin’ Chow sendiri memiliki tujuan yang tidak main-main dari beberapa aspek seperti sosial maupun produce. “Kita tujuannya making friends, gak mau terbatas alias ada gap antara satu sama lain. Misalnya Bali ya sama yang Bali saja. Kita ingin lebih luas, we work together sama chef-chef di Jakarta sehingga kita banyak kenalan di Jakarta, which is good, karena jika kita mau mengembangkan culinary di Indonesia ya kita harus gerak sama-sama.” Ungkap Ryan mengenai aspek sosial dari dibentuknya Jammin’ Chow.

Jammin’ Chow hingga saat ini telah melakukan tiga acara pop-up, salah satunya diselenggarakan di Jakarta di paruh awal 2021 dalam Japfa Experience, di mana mereka memasak dalam sebuah event khusus yang seluruhnya dirancang oleh Jammin’ Chow. “Kami berusaha maksimal untuk memberikan pengalaman makan kepada tamu. Nggak hanya produk masakanan saja yang kami perhatikan, namun juga elemen lain seperti musik hingga peletakkan meja. “Ujar Val. Keinginan Jammin’ Chow untuk memberikan full experience tersebut dengan memperhatikan musik untuk mengatur mood tamu atas makanan yang dihidangkan serta peletakan meja dan kursi dikonfirmasi oleh mereka bertiga.

Sebelum berada di Bali, trio ini meniti karier di negara yang berbeda-beda: Ryan di Australia, Austin di Belanda, dan Val di Singapura. Mereka pun memiliki spesialisasi masing-masing dalam memasak. “Ryan lebih suka main di area seafood; Austin lebih ke Indonesia modern dengan rasa yang betul-betul nendang; kalau Aku lebih ke dessert.” Terang Val. Namun, saat menjadi satu kesatuan alias Jammin’ Chow terdapat metode tersendiri untuk memadupadankan hidangan yang akan disajikan. “Tujuan utamanya adalah makanan itu harus lezat. Pertama kita rencanakan dahulu ingin membuat apa di menu. Lalu kita lihat dari segi ingredients itu memungkinkan atau tidak. Semisal tidak cocok, maka kita review lagi. Kita juga harus memikirkan target audience kita di tempat tersebut gimana, fasilitas di tempat tersebut dan dari sana kita buat rencana, termasuk melihat tantangan kita di sana juga apa saja.” Terang Val.

Jammin’ Chow tak membatasi dengan siapa mereka berkolaborasi.| Foto oleh Feastin’

Jammin’ Chow tak membatasi dengan siapa mereka berkolaborasi.| Foto oleh Feastin’

Apabila pandemi Covid-19 telah mengacaukan agenda manusia di bumi, begitu juga halnya dengan masing-masing rencana anggota Jammin’ Chow . Mereka bertiga memiliki satu keinginan yang sama: Yakni tidak memiliki niatan untuk menetap di Bali dalam jangka waktu lama sebelum pandemi melanda. “Dulu aku memang tidak expect untuk tinggal di Bali karena tujuanku hanya di Bali setahun. Aku ingin lihat food scene di sini dan rencanaku ingin ke Eropa tahun lalu (2020).” Ujar Ryan. “Aku sebenarnya mirip sama Ryan. Planning-nya cuma balik setahun ke Bali, karena waktu kerja dulu beberapa tahun lalu sering pindah-pindah negara dalam jangka waktu dua setengah tahun. Jadi ibaratnya nyari libur dulu (di Bali).” Tambah Val. “Awalnya hampir sama semua sih ya kita tidak ada rencana untuk menetap di Bali.” Respon Austin.

Menetap di Bali pada akhirnya menjadi momentum tersendiri bagi Jammin’ Chow karena dengan begitu mereka berhasil menelaah beragam potensi culinary yang diemban di daerah Bali, mulai dari segi produk hingga talenta chef-chef lokal yang meniti karier di Bali. “Aku ngerasa Bali ini punya potensi yang besar banget. Dari segi produce, producer di sini banyak yang artisan (dibuat sendiri dan tidak mass produce) dan tentu saja kita cari seafood di sini gampang. Seafood itu barang premium yang bisa kita dapat dan tidak kalah sama barang luar. Teman-teman chef lokal di Bali juga so much potential. Hanya kurang exposure saja.”Ujar Ryan mengenai potensi yang dimiliki Bali. “Bagus, sekarang kita mulai lihat movement-movement baru dari para chef yang masih satu generasi sama kita yang umurnya masih di bawah – awal 30 tahun. Hanya kurang exposure aja. Jadi itu yang kita (Jammin’ Chow) mau highlight sekarang, we have so much potential and great minds.” pungkas Val mengenai talenta chef lokal di Bali. Austin pun mengiyakan juga hal tersebut dan lebih melihat dari segi akses informasi yang kini sangat mudah didapatkan oleh mereka, “Sekarang anak muda bisa melangkah hingga sepuluh langkah karena informasi sudah mudah dicari asal mau cari.” Ungkap Austin.

Kembali ke kata Jammin’ yang dapat memungkinkan beragam musisi naik ke satu panggung yang sama tanpa harus adanya susunan yang ajeg juga berlaku pada Jammin’ Chow. Potensi keterbukaan mereka untuk bekerja sama dengan beragam background, bahkan selain kuliner, sangat terbuka lebar. Sebagaimana yang dilontarkan oleh Austin, “It’s possible, sangat-sangat besar. Itu tadi kenapa kita sebut namanya Jammin’ Chow, apakah nanti dikemudian hari bisa sama chef-chef lain, justru itulah tujuannya. Tidak menutup kemungkinan juga yang dimaksud dengan Jammin’ Chow ini bukan hanya kita jammin’ dengan para chef saja tapi juga lain-lain, misalnya dari seni, Disc Jockey (DJ), band, we don’t know.” Terang Austin.

Hal yang menjadi misteri ke depannya ialah adakah kemungkinan Jammin’ Chow mengoperasikan sebuah restoran sendiri? Ketiga punggawa Jammin’ Chow belum memberikan kepastian akan hal itu. Hanya saja mereka memberikan sebuah perkembangan yang memungkinkan untuk ke arah tersebut. “Jadi kita dapet tawaran yang lumayan bagus untuk kita bertiga di salah satu lifestyle hospitality group di Canggu, Bali. Kita juga merasa tempat ini yang paling cocok untuk food scene dari Jammin’ Chow. So, when we get that offer ya why not.” Ungkap Val. “Untuk sekarang aku sama Val sudah join salah satu hospitality group di Bali dan Austin bakalan soon on board juga. Kita mungkin akan workin’ out dari sana.” Tambah Ryan. Kolektif chef seperti Jammin’ Chow tentunya menjadi angin segar tersendiri bagi ranah kuliner di Indonesia. Akankah kolektif chef seperti ini kedepannya akan menjadi fenomena baru di food scene Indonesia dan justru akan semakin meriah.

Faldy Pamungkas

Pemerhati band Genesis baik era Peter Gabriel maupun Phil Collins. Tangguh seperti Rocky Balboa serta banyak akal layaknya MacGyver.

https://obserfaldy.medium.com/
Previous
Previous

Seroja Bake: Bakery Lokal dengan Pendekatan Kontemporer di Kota Kembang

Next
Next

Driando Ahnan: Doktor Muda Promotor Tempe