Agneya Nyalakan Sentuhan Peranakan di Sudut Wijaya

Agneya mampu bertahan lama di tengah persaingan ketat, mengingat jumlah restoran Indonesia di kawasan Wijaya, Panglima Polim, dan Dharmawangsa tidak sedikit. 

Tak jauh dari bundaran yang menghubungkan tiga jalan besar di kawasan Wijaya, Jakarta, bangunan di sisi kanan Jl. Wijaya IX seolah mendapat napas baru dan kobaran api, selaras dengan namanya, Agneya, yang terinspirasi dari putri Dewa Agni, dewa api dalam kepercayaan Hindu.

Pesatnya pertumbuhan restoran di Jakarta tak meredupkan semangat restoran ini, justru semakin membara dengan berbagai inovasi kuliner yang dihadirkan. Agneya mampu bertahan lama di tengah persaingan ketat, mengingat jumlah restoran Indonesia di kawasan Wijaya, Panglima Polim, dan Dharmawangsa tidak sedikit. 

Didirikan pada 2017 dengan filosofi “Food is the ingredient that binds us together”, Agneya menyambut setiap tamu dengan bar megah yang mencuri perhatian—tempat berbagai koleksi wine tersimpan dan koktail serta moktail diracik dengan cermat. Interiornya didominasi dengan bahan kayu yang menciptakan nuansa hangat dan dihiasi karya seni yang memadukan warna biru dan putih. Sulit bagi mata untuk melewatkan kobaran api di dapur terbuka berpadu dengan aroma kayu bakar, tempat para juru masak Agneya berkreasi. 

Sembari menanti hidangan tersaji, semburat  sinar matahari yang masuk melalui jendela menjadikan Es Sari Asem Jawa pilihan sempurna untuk melepas dahaga. Kesegaran asam jawa dan jeruk nipis berpadu harmonis, dipermanis dengan rambut nenek, yang tidak hanya berfungsi sebagai hiasan tetapi juga dapat dinikmati sebagai camilan. 

Erfan Haryando, Public Relations Agneya memaparkan satu per satu hidangan yang mulai memenuhi meja kami. Risoles Ayam berisi ayam cincang, aneka sayuran dan telur rebus pun membuka santap siang. Hidangan ini dilengkapi dengan bumbu kacang yang seolah meminta untuk diceburkan oleh risol. Jagung Goreng Kering bak primadona yang mengetahui bahwa ia sudah dikenal, memang menu ini adalah menu best-selling dari Agneya yang sering malang melintang di media sosial. Tampilan keritingnya yang unik dilengkapi dengan serundeng berbumbu rempah.

Di tengah kesibukan kami mencicipi hidangan, Erfan menjelaskan bahwa di akhir tahun 2024, Agneya memperkaya menunya dengan menghadirkan ragam kuliner Peranakan. Terdapat sekitar 20 jenis menu Peranakan yang diperkenalkan dan menjadi menu baru Agneya. Crispy Fried Peking Duck, menjadi salah satu menu yang paling banyak dipesan. Potongan bebek digoreng hingga mencapai lapisan luar yang renyah, dengan tekstur bebek yang tetap lembut. Irisan tipis acar mangga dan dressing cabai asam manis memberikan keseimbangan antara rasa pedas dan sedikit manis. Sapi Bakar di Genteng memukau meja kami bahkan sebelum mencicipinya. Mata kami terpusat pada genteng yang beralih fungsi menjadi piring. Penggunaan genteng dengan bahan tanah liat ini bukan tanpa alasan, salah satunya yakni untuk menciptakan aroma dan menjaga temperatur optimal dalam pembakaran daging. Cita rasa manis dari gula aren yang digunakan untuk marinasi daging berpadu dengan hentakkan cabai hijau panggang. 

Tak lengkap meninggalkan suatu restoran, tanpa mencicipi pilihan hidangan penutup. Dessert yang tersedia pun, tentunya meng-highlight pilihan yang terinspirasi dari kudapan manis tanah air, seperti Cendol yang diramu dalam bentuk Panna Cotta. Namun, bagi para pecinta gorengan, Tape Goreng dengan banjuran salted caramel sulit untuk dilewatkan, di tengah maraknya menu Tape Basque Cheesecake, menyadarkan saya betapa kangennya melihat tape goreng dalam bentuk aslinya. 

Ruang demi ruang Agneya dapat dibayangkan diisi oleh ragam demografi yang berbeda dari siang ke malam. Di siang hari, dengan pencahayaan yang sedemikian rupa, cocok sekali untuk kumpul keluarga atau arisan, sementara di malam hari, temaram lampu menyulapnya menjadi tempat yang romantis. Mungkin itu sebabnya, Agneya menjadi pilihan banyak orang selama 7 tahun kebelakang. 

Sharima Umaya

Sharima Umaya adalah Head of Business Partnerships & Editorial Strategist di Feastin’. Senang menulis makanan dari kacamata berbeda, ia selalu memulai hari dengan iced latte & tak pernah bisa menolak kelezatan hidangan Jepang.

Previous
Previous

Melbourne Jadi Panggung Baru Kopi Vulkanik Merapi dan Ubi Cilembu

Next
Next

Locavore NXT Mendobrak Posisi 92 di Daftar 51-100 Asia's 50 Best Restaurants