Kisah Pahlawan di Balik Produksi Hampers Melts

Bukan sekadar bingkisan, bagaimana setiap hampers yang sampai ke tangan penerima merupakan hasil dari kerja keras dan ketulusan.

Produksi hampers di pabrik Melts | Foto: Feastin’

“Banjir tahun lalu pas 2 minggu sebelum lebaran tuh musibah terbesar buat Melts. Kita rugi ratusan juta, nggak bisa sampe sejauh ini kalau timnya nggak semangat juga. Balesin chat CS, harus hold orderan baru, manufaktur shift diperpanjang jadi 16 jam untuk ngejer produksi, dan tim kita selamatin yang bisa diselamatin hampers-nya” kenang David Liementha, founder Melts. 

“Cuma, we worked together as a team. Meskipun banjir tersebut musibah terbesar buat kami, tapi, lebaran tahun lalu juga omzet terbesar Melts sepanjang sejarah Melts. We could give a better bonus and career path to our team” sambil menyeruput filter coffee pilihannya dengan mata berbinar. 

Maurin Tirtana (kiri) dan David Liementha (kanan) | Foto: Feastin’

Festive season termasuk Ramadan sering kali identik dengan hampers sebagai simbol berbagi dan mempererat tali kasih. Melts menjadi salah satu merek yang kerap menjadi pilihan utama untuk memberikan hampers di berbagai perayaan. Dibuat dengan bahan baku berkualitas, 100% nabati serta pilihan harga yang beragam, Melts merebut hati banyak konsumen untuk menjadi pilihan snacking yang lebih sehat. 

Di balik kesuksesan Melts, tak banyak yang mengetahui lika-liku perjuangan yang telah dilalui oleh David Liementha dan timnya, mulai dari tim produksi, packer, hingga mereka yang menuliskan pesan di kartu ucapan, melalui hampers menjadi perantara dalam menjalin silaturahmi. 


Perjalanan David Liementha: Dari Bisnis Keluarga hingga Mendirikan Melts

David Liementha memulai kariernya di bisnis milik keluarganya, yang bergerak di lini usaha serupa. Selama lima tahun, ia membangun fondasi di bidang manufaktur dan produksi, meskipun di dalam hatinya kerap muncul pergolakan.

Salah satu hal yang ia sadari dalam industri snack di Indonesia adalah bagaimana mayoritas produsen memiliki mindset untuk menjual produk dengan harga semurah dan rasa seenak mungkin. Gula dan pemanis pun menjadi bahan baku yang dimanfaatkan untuk menekan biaya produksi sekaligus menciptakan efek adiktif pada snack yang diproduksi

“Puncaknya tuh pas waktu itu gue batuk sampai 3 bulan, pas proses produksi kan gue harus nyobain satu per satu snack yang dibuat. Darisitu, gue ngerasa ini ‘racun’ buat yang makan” buka David. 

Dampak dari pengalaman itu membuatnya berusaha mengubah resep di perusahaan. Akan tetapi, di tengah ketatnya persaingan industri yang berlomba-lomba menawarkan snack dengan harga paling terjangkau, sulit bagi David untuk mencapai harga kompetitif jika menggunakan bahan baku alami.

Salah satu produk unggulan Melts, Almost Dark Chocolate spread | Foto: Feastin’

“Akhirnya, gue mutusin untuk memulai Melts di akhir 2019, walaupun waktu itu gue sempet didiemin sama keluarga gue karena keputusan gue” ungkapnya dengan ekspresi sendu. 


Melts Sebagai Simbol Pembuktian David ke Keluarga 

Melts lahir dari visi untuk menghadirkan snack yang lebih sehat, di tengah maraknya produk yang tinggi gula. Keunggulan utama Melts terletak pada penggunaan bahan alami meskipun harga produksinya lebih tinggi. David juga memastikan label komposisi produknya transparan dan mudah dipahami - tanpa bahan-bahan yang sulit dikenali, serta merancang formula yang lebih rendah gula tanpa mengorbankan rasa.

Produksi Hampers Melts yang Dibuat dengan Kehati-hatian | Foto: Feastin’

Berbekal pengalaman di bidang manufaktur, David mampu menekan biaya produksi meskipun menggunakan bahan berkualitas tinggi. Awalnya, ia hanya menggunakan mesin kecil hibah keluarga yang mampu memproduksi enam kilogram cokelat atau setara dengan 20 jar. Pandemi di awal 2020 membawa perubahan besar bagi Melts. Kesadaran masyarakat akan makanan sehat meningkat, dan permintaan terhadap Melts pun melonjak.

Puncak lonjakan permintaan terjadi pada Mei 2020 menjelang Lebaran. “Dari cuma produksi 2-3 hampers per hari, tiba-tiba naik sampe 1,000 hampers per hari selama sepuluh hari berturut-turut” Salah satu faktor pendorongnya adalah sentuhan personal berupa kartu ucapan dalam hampers, yang semakin menarik pelanggan. Pabrik yang sebelumnya mati suri akhirnya hidup kembali berkat Melts.

Keberhasilan ini membawa Melts mencapai omzet Rp 1 miliar pertamanya. David pun membeli 30% aset perusahaan keluarganya untuk membangun Melts dan merekrut kembali 80 karyawan yang sebelumnya diberhentikan. Dedikasi dan kerja kerasnya akhirnya mendapat pengakuan dari sang ayah, yang awalnya meragukan keputusannya. “Saat itu, beliau datang, menepuk pundak saya, tanpa berkata apa-apa” kenang David dengan haru. Dari sana, dukungan penuh pun mengalir, mengubah perjalanan bisnisnya ke arah yang lebih besar.

Menghadapi Tantangan Awal Bisnis dan Pentingnya Terus Berinovasi

Di awal perjalanan, David masih mengurus hampir semua aspek bisnis sendiri, mulai dari membalas pesan di e-commerce hingga memasang ads. Bahkan, ia sempat mengantar produk sendiri agar bisa bertemu langsung dengan pelanggan. Tantangan terbesar adalah memastikan kelangsungan bisnis—di awal, Melts sempat mengalami kesulitan membayar gaji tepat waktu. Namun, para karyawan tetap bertahan karena mereka percaya pada nilai dan visi Melts. Di saat Melts semakin berkembang, David pun dapat membayar mereka bahkan jauh lebih tinggi di saat mereka memulai. 

Setelah mengalami lonjakan pada 2020, omzet Melts sempat mengalami penurunan di 2022. Salah satu masukan yang ia rasa menjadi pekerjaan rumah bagi Melts adalah kemasan hampers yang kurang menarik, di tengah hampers lain terus meng-upgrade desainnya

Desain kemasan Melts yang selalu di-update secara berkala | Foto: Feastin’

Menanggapi hal tersebut, David memutuskan untuk berinvestasi besar dalam pengembangan desain kemasan. Dengan anggaran cetak yang fantastis, ia berani untuk mengambil risiko dan melakukan upgrade signifikan pada kemasan, mulai dari penggunaan cetakan full print hingga peningkatan kualitas desain. Keputusan ini pun membuahkan hasil. Memasuki akhir 2023 hingga awal 2024, sales Melts kembali melonjak tajam, membuktikan bahwa inovasi dan pengambilan risiko tinggi menjadi salah satu kunci pertumbuhan bisnisnya.

Jangan Lupakan Identitas Saat Mengembangkan Produk

Riding the wave is a must for F&B, but ride the wave with our own style. Don’t lose our identity” tegas David. 

Pengembangan produk menjadi kunci bagi Melts dalam beradaptasi dan tetap menjadi pilihan konsumen. Tidak semua inovasi berhasil, namun salah satu yang sukses adalah Choco Lava Nastar.

Produk Choco Lava Nastar dengan kemasan tema Ramadan | Foto: Feastin’

“Ide dasarnya adalah menciptakan nastar tanpa nanas dan tetap vegan,” ujar David. Dengan keunggulan Melts dalam produksi cokelat, selai nanas digantikan dengan isian cokelat dalam bentuk nastar klasik.

Selain itu, mengikuti tren Dubai Chocolate, Melts mengembangkan pistachio spread dan pistachio kunafa spread. Produk ini mendapat respons positif, terutama di pasar B2B, dengan tingginya permintaan untuk digunakan dalam berbagai dessert yang terinspirasi dari Dubai Chocolate.


Kunci Sukses Menjadi Pilihan di Tengah Ketatnya Persaingan Hampers 

The hero is the gifter. Not us” 

David pernah mengalami bagaimana ia sering diberikan hampers berupa kue, atau apabila ada teman yang mau mengirimkan kue, seringkali, repot di pemesanan kurir atau menghubungi penerima. 

David dengan rendah hati, menekankan bahwa pentingnya menjadikan sang pengirim hampers sebagai pahlawan. Banyak aspek yang dipikirkan baik-baik. Pertama, bagaimana pemilihan produknya memang disengaja agar tahan lama, agar konsumen tak khawatir apabila hampers tak langsung dikonsumsi saat itu juga. Kedua, konstruksi box selalu sama. Hanya desain yang dirubah sesuai dengan momen. Ketiga, Melts melakukan R&D untuk box nya dan memastikan bahwa apabila box tersebut dilempar sejauh 3 meter, produk tidak akan pecah. Pengiriman terjauh ke Papua dan box aman sampai ke tangan konsumen. 

“Enak wajib, design bagus wajib, enggak repot paling penting” pungkasnya. 

Salah satu opsi hampers di bulan Ramadan | Foto: Feastin’

Kartu ucapan di dalam hampers Ramadan | Foto: Feastin’

Suka dan Duka Mengembangkan Melts

Seiring pertumbuhan Melts, David dan tim mengalami banyak suka dan duka. Setiap high season, David kerap menginap di pabrik untuk memastikan operasional berjalan lancar.

Kebiasaan konsumen yang memesan hampers secara mendadak juga menjadi tantangan tersendiri. “Bisa dibilang, cuma 10% yang plan dari jauh-jauh hari, 90% nya dadakan. Bahkan di momen lebaran, bisa produksi 1,000-5,000 dalam satu hari” ungkapnya.

Selain hampers untuk festive season, Melts kini juga menerima pesanan khusus dari berbagai brand dan event, seperti birthday dan wedding. “Kita pernah ngerjain custom order dari brand fashion, provider telekomunikasi, hingga KOL yang bikin hampers pakai foto sendiri. Nah, kalau itu ada tim Partnerships yang handle” tambahnya.

Duka yang ia dan tim alami, khususnya apabila menerima complain yang kasar dan terkadang sering membuat tim down, walaupun tim sudah berusaha untuk menjelaskan kondisi sebaik mungkin. 

“Cuma, kalau membaca review-review positif tentang Melts, biasanya semangat kita balik lagi” tutup David dengan senyuman. 

Di bulan Ramadan, tim Melts dan para pelaku usaha hampers merupakan pahlawan yang menyambungkan tali silaturahmi melalui produk mereka. Di sisi lain, para pembeli juga menjadi pahlawan yang mendukung keberlangsungan bisnis, terutama di tengah kondisi ekonomi yang menantang. 


Sharima Umaya

Sharima Umaya adalah Head of Business Partnerships & Editorial Strategist di Feastin’. Senang menulis makanan dari kacamata berbeda, ia selalu memulai hari dengan iced latte & tak pernah bisa menolak kelezatan hidangan Jepang.

Previous
Previous

Keuken Sajikan Perspektif Spiritual Makanan Lewat Food in The Quran

Next
Next

Tujuh Pilihan Buffet Ramadan dari Lokal Hingga Mancanegara di Le Méridien Jakarta