Bika Ambon & Lapis Legit, Tragedi di Gerbang Wawasan Kue Indonesia
Dari Ci Mehong, Blue Band, hingga Wijsman. Siapa menyangka kalau perdebatan terkait kue Indonesia mendapat panggung baru yang tak terpikirkan sebelumnya?
Bika Ambon | Sumber foto: instagram.com/fen.z
“Bika Ambon dari Ambon bukan?”. Bosan rasanya mendengar pertanyaan itu berulang kali setiap kali bertemu dengan kue bertekstur kenyal yang satu ini. “Oh… Dari Medan rupanya” adalah respon terkejut yang seringkali diucapkan banyak orang saat mengetahui fakta sebenarnya bahwa kue ini berasal dari kota di Sumatera Utara itu. Bertahun-tahun, dari generasi ke generasi, kita semua seakan terjebak dengan pengetahuan yang itu-itu saja atau bahkan tidak mengetahui sama sekali.
Tak hanya itu, Lapis Legit juga mengalami nasib yang serupa. “Hebat ya kuenya rapih gini”, “Gimana cara buatnya ya berlapis-lapis”, “Apa bedanya sih sama spikoe?”, kerap menjadi pertanyaan berulang di tengah waktu menyantap kue yang satu ini. Sekali lagi, kita semua terjebak dalam bahasan yang itu-itu saja.
Namun, akhir tahun 2024 hingga awal 2025, pembicaraan seputar kedua kue ini tiba-tiba mendapat panggung baru. Sayangnya, bukan lewat edukasi yang sistematis, melainkan dari kisruh di media sosial. Isu ini memang bukan cara terbaik untuk membuka wawasan, tetapi setidaknya berhasil menarik perhatian publik, membawa diskusi tentang Bika Ambon, Lapis Legit, dan lanskap kue Indonesia ke lingkup yang lebih luas.
Viralnya sosok Ci Mehong (Tjie Nofia Handayani Siu Fung) di balik toko PIK Baking House yang bermula dari perdebatan “Blue Band vs Butter Wijsman” dan berujung pada bahan pembuatan kedua kue ini menjadi pemantik diskusi awal. Perdebatan biasa yang sangat baik mengawalinya. Namun saat semuanya bergeser pasca viralnya sebuah ulasan yang cenderung menjatuhkan akibat adanya dugaan serangga yang menempel pada Bika Ambon buatan usaha catering satu itu, perdebatan ini rasanya memang semakin tak sehat.
Hari demi hari hampir seluruh jagad media sosial diisi oleh perdebatan mulai dari bahasan yang masih sesuai konteks seperti mana Bika Ambon yang asli, seperti apa Lapis Legit yang autentik, hingga debat tak sehat membanding-bandingkan ragam merek Bika Ambon yang dilakukan tanpa pengetahuan dasar yang mumpuni sehingga terasa asal ucap. Tragisnya, banyak dari mereka adalah sosok yang dijadikan acuan atau panutan dari orang yang menontonnya. Mereka dipercaya menjadi yang paling benar oleh masing-masing pengikutnya seakan menjadi satu sumber absolut yang valid dan menegasi pendapat orang lainnya.
Di tengah industri kuliner Indonesia yang masih terus berkembang, kehadiran figur yang berbicara tanpa dasar yang kuat namun dipercaya secara mutlak adalah tragedi penuh ilusi. Persaingan bisnis tak sehat pun muncul, salah satunya bahkan dilakukan oleh salah satu brand Bika Ambon yang menjadi salah satu ‘leader’ di platform TikTok. Juga ‘influencer’ yang memanfaatkan momentum ini untuk berjualan produk serupa dengan menjatuhkan brand lainnya.
Tapi mari berpindah dari sisi buruk tersebut yang membuat media sosial kita tak ramah untuk dikonsumsi. Mengamati kolom komentar yang penuh perang, terselip beberapa di antaranya yang cukup menggelitik: “Aku dulu gak suka Bika Ambon, sekarang kok malah suka ya”, “Aku baru tahu Bika Ambon pakai daun jeruk”, “Lapis Legit memang seharusnya pakai cinnamon?”, “Gara-gara ini aku jadi nyoba macem-macem Bika Ambon” hanyalah sebagian hal yang muncul dari isu ini. Setidaknya, isu ini telah berhasil memantik rasa penasaran dan keingintahuan. Kudapan yang seringkali hanya dapat ditemui dalam jamuan-jamuan atau saat momen khusus atau di tengah setting bertamu dan rapat antar instansi, kini mendapat panggung, membuka kesempatan untuknya menjadi pilihan sehari-hari.
Banyak di antara kita juga jadi lebih mengenalnya, mau mencicipinya, hingga menemukan versi terbaik dari yang terbaik. Budaya eksplorasi ini yang patut terus ditumbuhkan oleh masyarakat Indonesia terhadap panganan lokalnya sendiri. Excitement yang sama dengan saat mengeksplorasi kuliner dari negara lainnya seperti Thailand, Vietnam, Korea Selatan, Jepang, hingga kue-kue khas Eropa. Tanggalkan kata ‘tradisional’ yang mengotakkannya hanya dapat tampil dan dikonsumsi dalam momen tertentu.
Kue Indonesia harus bisa menjadi pilihan setiap saat. Ekplorasi akannya tak perlu jadi sesuatu yang spesial atau hanya dilakukan saat berkunjung ke tempat asalnya saja. Mencoba membuatnya tak kalah keren dari keberhasilan membuat donat, basque cheesecake, croissant yang flaky, atau bolu yang lembut.