Makan Bersama dengan Kenalan Baru
Dionisius Denizar berbagi pengalaman menjelajahi dua platform berbeda untuk memperluas relasi sosial melalui meja makan.
Salah satu sesi yang diikuti Dion | Foto: Dionisius Denizar
Seiring bertambahnya usia, dinamika kehidupan sosial kita pun berubah, terutama dalam pertemanan. Saya mulai merasakan perubahan ini setelah memasuki usia 28 tahun, di mana lingkaran pertemanan semakin mengecil dan sering kali bertemu dengan orang yang itu-itu saja, alias 4L: “Lo lagi, lo lagi”. Penyebabnya bisa berasal dari faktor internal maupun eksternal. Secara pribadi, saya kerap merasa bingung bagaimana cara menemukan teman atau kenalan baru yang cocok. Sementara itu, dari sisi eksternal, kesibukan teman-teman lama membuat frekuensi interaksi semakin jarang.
Dengan menurunnya intensitas pertemanan, saya mulai mencari cara untuk memperluas jejaring sosial. Salah satunya dalam hal bersantap di luar rumah, di mana saya lebih menikmati pengalaman makan jika ditemani teman, karena bisa berbagi berbagai jenis hidangan. Setelah melihat iklan dan unggahan di media sosial, saya menemukan solusi agar tidak selalu makan sendirian saat mencoba tempat baru.
Kesempatan bertemu berbagai orang dengan latar belakang berbeda di meja makan | Foto: Dionisius Denizar
Pertama, saya menggunakan sebuah aplikasi yang telah beroperasi di puluhan kota di dunia dengan konsep unik dalam mengumpulkan orang asing dalam satu meja. Setiap pengguna yang bergabung akan melalui proses profilisasi dengan mengisi kuesioner yang mencakup spektrum introvert dan ekstrovert, pandangan politik, selera humor, hingga preferensi genre musik. Berdasarkan hasil kuesioner, algoritma akan mencocokkan pengguna dan mengelompokkan 6–7 orang dalam satu grup untuk makan bersama setiap Rabu malam. Detail mengenai latar belakang pekerjaan para anggota grup baru diungkap 24 jam sebelum makan malam, sementara lokasi pertemuan diberitahukan 12 jam sebelumnya.
Dengan komposisi anggota dan lokasi yang dirahasiakan hingga menjelang sesi makan malam, ada elements of surprises yang selalu muncul. Saat tiba di lokasi, banyak hal tak terduga, mulai dari latar belakang karier hingga kepribadian para peserta—bahkan saya sendiri pernah bertemu kembali dengan teman SMA dan kuliah yang sudah lama tak bersua. Sesi makan malam biasanya dimulai pukul 19.00, dengan obrolan yang mengalir bebas bergantung pada dinamika grup di meja.
Selain itu, setelah sesi makan malam, biasanya ada acara "Last Drink" yang diadakan di sebuah bar. Acara ini memberi kesempatan bagi peserta dari berbagai restoran untuk bertemu, berkenalan, dan memperluas jejaring dalam suasana yang lebih santai. Setelah beberapa kali mengikuti kegiatan ini, saya tidak hanya menemukan referensi tempat makan baru, tetapi juga bertemu banyak teman baru dan menjalin berbagai aktivitas di luar sesi makan malam.
Selain aplikasi tersebut, ada sebuah komunitas di Instagram yang menarik perhatian saya. Komunitas ini memiliki konsep unik dalam mengajak orang untuk menjelajahi kuliner bersama. Saya sudah berkenalan dengan inisiatornya dalam acara lain, namun ketika ia bercerita mengenai kegiatan komunitas ini, saya langsung tertarik untuk mengikutinya.
Biasanya, ada dua jenis kegiatan yang diadakan. Pertama, perjalanan kuliner ke suatu daerah di Jakarta untuk mencicipi beragam hidangan, mulai dari jajanan hingga makanan berat. Kedua, makan bersama di restoran atau rumah makan yang telah dipesan sebelumnya. Uniknya, peserta mendaftar dengan menyebut alasan ingin bergabung dan siapa yang lebih cepat mendaftar akan mendapat tempat. Ini menciptakan elements of surprises, baik dari makanan yang akan dicoba, rute perjalanan, hingga lokasi yang dikunjungi, yang sering kali ditentukan secara spontan.
Dari kedua platform yang telah saya ikuti untuk berkenalan dan bersantap bersama, saya semakin menyadari bahwa bertemu dengan berbagai macam orang dapat memperkaya wawasan, memperluas jejaring, serta mengenalkan beragam selera kuliner. Pengalaman ini membuat saya lebih toleran, semakin ingin tahu tentang dunia dan isinya, serta mampu melihat berbagai perspektif secara lebih objektif dan terbuka. Sebab, pertemanan dan jejaring tidak mengenal batas.